Tanda-tanda Hati yang Mati Menurut Ibn ‘Athaillah as-Sakandari

156
Tanda-tanda Hati yang Mati

Tanda-tanda hati yang mati mudah dikenali dalam diri seorang manusia. Seseorang yang memiliki hati yang bersih akan senantiasa menggantungkan hidupnya hanya kepada Allah. Ia tidak bosan dalam menjalani hidup dengan ketaatan dan selalu mengutamakan hal yang bermanfaat.

Pemilik hati yang bersih ini memiliki hidup indah dan bahagia, karena dalam hidupnya ia lebih mementingkan urusan akhirat daripada dunia. Berbeda kehidupan seseorang yang memiliki hati yang mati, ia akan cenderung mendahulukan kepentingan pribadinya dan syahwatnya daripada urusan ketaatan dan cinta kepada Allah (SWT).

Dalam QS Al-Furqan disebutkan:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلاً

“Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?”

Hati yang Mati

Ibn ‘Athaillah as-Sakandari menyampaikan dalam kitabnya Al-Hikam bahwa di antara tanda-tanda hati yang mati adalah tidak ada kesedihan atas ketaatan yang terlewatkan dan tidak adanya penyesalan atas adanya kesalahan-kesalahan dan dosa yang dilakukan. Kedua tanda tersebut menunjukkan bahwa tidak adanya nilai-nilai keimanan yang tertanam kokoh dalam hatinya.

Ketika ketaatan terlewati begitu saja, hati yang mati tidak menemukan penyesalan sama sekali. Hal itu dikarenakan oleh hati yang sudah tidak sehat lagi. Seharusnya hati mampu merasakan setiap hal yang mendatangkan keridhaan Allah sehingga membuatnya bahagia.

Sementara hati yang mati merasakan ketaatan dan murka Allah seperti suatu hal yang sama saja. Ketaatan tidak membuatnya bahagia, maksiat tidak membuatnya gelisah. Keduanya tidak menjadikan perbedaan sama sekali.

Dalam konteks ini Nabi Muhammad (SAW) bersabda:

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ.رواه أبو الفرج البغدادي

“Orang yang kebaikannya menjadikannya bahagia dan keburukannya menjadikannya sedih, maka ia adalah seorang mukmin yang sempurna.”

Begitu pula dengan hati yang mati, ia tidak mengenal perasaan yang menyesal sebab kesalahan yang telah diperbuat. Ia menganggapnya sebagai hal biasa dan tetap saja dilakukan kembali di lain waktu. Hati yang mati tidak mengenal indahnya hari-hari dengan ketaatan, melainkan ia menilainya sama saja antara kebaikan dan keburukan.

Adapun orang yang hatinya sakit, dia selalu mengikuti keburukan dengan keburukan juga. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Itu adalah dosa di atas dosa sehingga membuat hati menjadi buta, lalu mati.” Sementara hati yang sehat selalu mengikuti keburukan dengan kebaikan dan mengikuti dosa dengan taubat.

Dalam kitab-Nya, Allah menyebutkan:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَواْ إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُواْ فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ

“Sesungguhnya orang-orang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).”

10 Tanda-tanda Hati yang Mati

  1. Berani meninggalkan sholat “Tarkush Sholah”
  2. Tenang tanpa merasa berdosa padahal sedang melakukan dosa besar “Adzdzanbu bil Farhi”
  3. Tidak tersentuh hatinya bahkan menjauhi ayat-ayat Al-Qur’an “Karhul Qur’an”
  4. Terus menerus berbuat maksiat “Hubbul Ma’asyi”
  5. Sibuknya mengumpat, fitnah, dan berburuk sangka “Asikhru”
  6. Sangat benci dengan nasihat baik dan para ulama “Ghodbul Ulamai”
  7. Tidak ada rasa takut akan peringatan kematian, kuburan, dan akhirat “Qolbul Hajari”
  8. Gilanya pada dunia tanpa peduli dosa “Himmatuhul Bathni”
  9. Senang melihat orang susah dan menderita “Anaaniyyun”
  10. Tidak pernah bersyukur kepada Allah “Kufur Nikmat”