Kisah Teladan Sultan Abdul Hamid II Tentang Keajaiban Sholawat Nabi

319

Sebuah kisah teladan yang mengharukan dan penuh hikmah dari Sultan Abdul Hamid II (21 September 1842 – 10 Februari 1918) pada masa kekhalifahan Turki Usmani.

Suatu hari, pengawalnya yang bernama Basya datang melapor ke ruangan Sultan. Dia melaporkan bahwa ada seorang pedagang yang bernama Faisal mengklaim bahwa Sultan berhutang kepadanya.

Kisah Teladan Sultan Abdul Hamid II Tentang Keajaiban Sholawat Nabi
Kisah Teladan Sultan Abdul Hamid II Tentang Keajaiban Sholawat Nabi

Berikut ini adalah cuplikan kisahnya

“Yang Mulia, di acara salam Jum’at ada beberapa keinginan rakyat yang disampaikan pada kita.” kata Basya.

“Bacakanlah…” kata Sultan.

“Mereka meminta bantuan terkait jembatan Walide di wilayah Karamursel.” Basya membaca lembar pertama surat keluhan dari rakyat untuk Sultan.

Pada lembar kedua, dia dengan sengaja melewatkannya untuk tidak dibacakan kepada Sultan.

Maka Sultan pun menanyainya, “Mengapa engkau tidak membaca bagian itu Basya?”

“Saya keberatan Yang Mulia.” kata Basya.

“Kenapa?” tanya Sultan kepada Basya.

“Yang Mulia, ada yang datang lalu berkata bahwasanya Anda berhutang kepadanya. Kami telah memanggilnya ke istana. Kami telah memberikannya uang tetapi dia tidak mau pergi.” kata Basya.

“Di mana dia?” tanya Sultan.

“Di sini Yang Mulia.” jawab Basya.

“Tolong panggilkan Tuan Faisal ke dalam.” kata Basya kepada salah satu di antara 2 penjaga pintu.

“Wahai Tuan, dari mana Saya berhutang pada Anda?” tanya Sultan kepada Faisal.

“Sultan, Saya adalah seorang pedagang, namun Saya bangkrut. Saya kemudian terlilit hutang. Setiap malah Saya selalu berdo’a kepada Allah.” jawab Faisal.

Belum selesai Faisal berbicara, Basya pun langsung menyanggahnya, “Wahai Tuan, Sultan bertanya dari mana dia berhutang pada Anda?”

Namun, Faisal tetap melanjutkan ucapannya, “Seperti yang Saya katakan. Setiap malah Saya selalu berdo’a kepada Allah.”

“Kemarin malam, dalam mimpi Saya bertemu dengan Nabi Muhammad Shallallaahu Alayhi Wasallam.” lanjut Faisal.

Sontak saja, Sultan dan Basya pun terkejut mendengarnya.

“Shallallaahu Alayhi Wasallam.” sahut Sultan dan Basya sambil meletakkan tangan kanan di dadanya.

“Beliau (Nabi Muhammad) berkata, ‘Katakanlah pada Hamidku (Sultan), bahwa ia biasanya bershalawat untukku pada setiap malam, namun kemarin malam ia lupa. Temuilah Sultan, dan mintalah keinginanmu padanya..'” tutur Faisal.

Kisah Teladan Sultan Abdul Hamid II Tentang Keajaiban Sholawat Nabi
Kisah Teladan Sultan Abdul Hamid II Tentang Keajaiban Sholawat Nabi

Mendengar penjelasan Faisal, Sultan langsung berdiri. Tampak wajahnya begitu kaget.

“Apa yang beliau katakan?” tanya Sultan.

“Hamidku…” jawab Faisal menirukan kata-kata Nabi Muhammad dalam mimpinya.

Belum selesai Faisal melanjutkan perkataanya, mendadak saja Sultan mengisyaratkan Faisal untuk berhenti bicara. Sultan Hamid II lalu membuka laci mejanya, dan memberikan Faisal sekantong uang.

“Tolong katakan lagi apa yang beliau katakan kepadamu?” tanya Sultan.

“Hamidku…” jawab Faisal menirukan kata-kata Nabi Muhammad dalam mimpinya.

Belum selesai Faisal melanjutkan, Sultan kembali memotong perkataanya dan mengambil sekantong uang lagi, lalu memberikannya kepada si pedagang itu.

Dan Sultan pun kembali bertanya, “Sekali lagi, apa yang beliau ketakan kepadamu?”

Faisal menjawab, “Saya melihat Nabi Muhammad dalam mimpiku dan beliau berkata, ‘Hamidku…'”

Sultan Hamid II lagi-lagi memberi isyarat kepada Faisal untuk berhenti bicara dan kembali memberikan Faisal sekantong uang yang ia ambil dari laci mejanya.

Lalu Sultan pun kembali bertanya, “Sekali lagi, apa yang beliau ketakan kepadamu?”

“Hamidku…” jawab Faisal menirukan kata-kata Nabi Muhammad dalam mimpinya.

Dan sekali lagi Sultan Hamid II memberi isyarat kepada Faisal untuk berhenti bicara dan lagi-lagi ia memberikan kepada Faisal sekantong uang yang diambil dari laci mejanya.

Melihat hal itu, Basya segera menegur Faisal, “Wahai Tuan Faisal, apakah belum cukup uang yang engkau terima itu?”

Faisal yang sudah kerepotan memegang 4 kantong uang, menjawab “Sudah cukup Basya. Saya akan segera melunasi hutang-hutangku.”

Sambil menundukkan kepada, dedua mata Sultan Hamid II pun mulai berkaca-kaca, “Semoga Allah merahmatimu.” kata Sultan kepada Faisal yang langsung pamit dari istana.

“Yang Mulia, Saya khawatir dia akan meminta seluruh harta kekayaanmu.” kata Basya.

“Apa yang kau katakan Basya? Demi Allah, bahkan seandainya dia meminta seluruh harta kekayaan dan jabatanku; pastilah akan aku berikan kepadanya.” kata Sultan sembari menangis.

“Kemarin malam, aku bekerja hingga larut malam hingga aku tertidur di meja kerjaku dan lupa bershalawat kepada Nabi Muhammad. Padahal aku selalu rutin bershalawat setiap malam.” lanjut Sultan.

Basya yang mendengar cerita Sultan, tak sanggup menahan air matanya. Dan mereka berdua pun menangis tak kuasa menahan haru.