Kisah Nabi Musa yang Memukul/Menampar Malaikat Maut

27

Diriwayatkan dalam Sahih Al-Bukhari bahwa ketika Malaikat Maut datang kepada Nabi Musa (AS), ia meninju Malaikat Maut hingga matanya terbalik. Malaikat Maut itu kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada Allah (SWT), “Engkau mengirimku kepada seorang Nabi yang tidak ingin mati.”

Banyak dari kita yang meraguan kisah ini dan bertanya, “Mungkinkah seorang Nabi benar-benar memukul Malaikat?”

Jawabannya:
Sebenarnya, orang yang mempertanyakan kebenaran kisah ini tidak merenungkan kehidupan dan karakteristik dari Nabi Musa (AS) itu sendiri.

Tahukah Anda bahwasanya Musa (AS) pernah melemparkan kitab suci? Bukankah Musa ‘melemparkan kitab suci yang mana didalamnya ada tuntunan dan petunjuk’?

Dan bukankah Musa (AS) ‘menarik jenggot saudaranya (Harun, seorang Nabi), menyeretnya ke dekatnya’ sampai-sampai Harun (AS) memohon padanya, “Janganlah engkau mempermalukanku di depan musuh-musuhku.” Semuanya ini dikisahkan dalam Surat Al-Araf.

Bukankah ini semua lebih penting daripada sekedar memukul Malaikat?

Dan jauh sebelum ini, bukankah Musa (AS) dalam Surat Al-Qasas melihat seorang pria berdebat dengan sesama orang Ibrani lalu ‘memukulnya dan membunuhnya’? Apakah para Nabi memukul orang? Apakah seorang Nabi memukul seseorang sebelum mendengar kedua sisi cerita (yang mana kemudian Musa (AS) menyadari bahwa sebenarnya rekan senegaranya, yaitu si orang Ibrani, adalah orang yang suka membantah, dan bukanlah orang Mesir). Bahkan sebelum menerima wahyu mereka, para Nabi adalah teladan karakter yang jujur.

Maka orang yang meragukan Sahih Al-Bukhari atas kisah Musa (AS) yang memukul Malaikat Maut sebenarnya harus mempertanyakan Al-Quran terlebih dahulu.

Kenyataannya adalah bahwa Musa (AS) begitu bersemangat untuk kebenaran sehingga kadang-kadang ekspresi tanpa filter yang keluar darinya adalah tindakan yang secara teknis tidak benar secara lahiriah. Tapi Allah (SWT) Maha Mengetahui atas motif dan niat seseorang. Apakah Musa dengan sengaja melakukan tindakan berdosa? Apakah dia melakukannya karena keinginan dasar? Atau lebih tepatnya, apakah semua itu terjadi karena dorongan hati yang dipenuhi dengan hasrat untuk mencari kebenaran? Dan untuk alasan ini, Allah (SWT) tidak menyalahkannya atas tindakan ini karena hatinya begitu murni.

Allah (SWT) tahu Musa (AS) marah karena alasan yang benar. Beberapa orang marah karena alasan yang benar, dan yang lain dengan tenang bersikap sopan karena alasan yang salah. Musa (AS) melemparkan kitab suci itu dan menyambar jenggot saudaranya karena marah ketika melihat orang-orangnya menyembah anak lembu emas. Musa membunuh orang itu ketika dia merasa cukup dengan penghinaan orang-orang Ibrani di Mesir.

Dan masih ada lagi…

Apa yang Anda katakan tentang seseorang yang menjawab panggilan Allah (SWT) dan menjadi marah dengan tindakan-Nya? Surat Al-Araf terus berbicara tentang ‘ghadab’ atau kemarahan Musa. Setelah kejadian dengan anak lembu emas, “Dia (Musa (AS)) memilih tujuh puluh anak buahnya untuk pertemuan Kami” (untuk bertaubat dan mendekat kepada Allah (SWT)). Mereka memanjat gunung bersamanya dan mengawasinya berdoa. Mereka melihat awan menghampirinya dan melihat cahaya berkelap-kelip di dalamnya. Tapi mereka tidak puas. Mereka berkata; tunjukkanlah kepada kami akan wujud Allah (SWT) itu sendiri. “Kemudian bumi bergetar dengan hebat (dan membuat mereka terbunuh). Dia (Musa (AS)) berkata; Tuhan! Jika Engkau mau, Engkau bisa saja membuatku terbunuh dan begitupun mereka sebelum semuanya!” Seperti inikah cara seseorang berbicara kepada Penguasa Semesta? Dia berbicara seperti ini kepada Allah (SWT) karena betapa dia ingin orang-orang ini mendekatkan diri kepada Allah (SWT) dan mengenal Dia dengan pasti. Dia ingin melihat hasil yang baik dalam dakwah itu. Dan juga karena dia akan bertanggung-jawab atas kehidupan orang-orang ini. Apa yang akan dia katakan kepada orang-orang ketika dia kembali? Mereka semua mungkin akan kufur setelah terjadinya bencana ini (nyatanya Allah (SWT) menghidupkan kembali mereka dan mereka kembali dengan selamat ke keluarga mereka, setelah mereka bertaubat).

Namun Allah (SWT) mengabaikan hal ini karena motifnya kuat. Bahkan, dikatakan bahwa ketika Allah (SWT) memandang bumi untuk seseorang yang akan menggulingkan Firaun, Dia tidak menemukan hati yang lebih rendah dan suci daripada hati Musa (AS).

Perhatikan baik-baik, dan Anda akan menemukan bahwa setiap kali ‘amarah Musa mereda’ ia memunculkan doa-doa yang paling indah. Setelah membunuh mereka (orang Mesir), “Tuhanku, ini semua adalah kesalahanku, maka maafkanlah aku.” dan Dia memaafkannya. Sesungguhnya, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “Ya Tuhanku, untuk kebaikan yang Engkau berikan kepadaku, maka aku tidak akan pernah membantu orang yang berbuat salah (maksiat).” (Al-Qasas: 15-16).

Setelah melemparkan kitab suci dan memarahi saudaranya (Harun (AS)) Musa (AS) berdoa, “Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan naungi kami dalam rahmatMu, karena Engkau adalah yang paling penyayang dari semua penyayang. “(7: 151 al-Araf).

Namun masih ada lagi…

Tidakkah Allah (SWT) memberi tahu Nabi Musa (AS) tentang seorang pria yang, “Kami memberikan pengetahuan Laddunni (pengetahuan langsung dari Allah (SWT)) kepadanya.” dalam Surat Al-Kahf. Dan apa yang terjadi? Setiap kali Nabi Khidr (AS) mengambil tindakan, Musa (AS) menolaknya dan mempertanyakannya. Apakah itu karena dia merasa dia lebih tahu? Apakah dia ragu? Apakah dia tidak menghormati gurunya (Nabi Khidr (AS))? Tidak, melainkan itu semua adalah semangatnya untuk mencari kebenaran.

Sekarang kita kembali kepada kisah Malaikat Maut. Akhirnya, setelah empat puluh tahun berkeliaran di padang pasir, dan total delapan puluh tahun memimpin Bani Israil dengan satu-satunya misi untuk membebaskan mereka dari perbudakan di Tanah Perjanjian, Musa (AS) melewati sebuah bukit dan akhirnya menetap wilayah suci yang akan menjadi rumah pertama bagi agama milik Allah (SWT). Dan kemudian pada saat itu malaikat itu datang untuk mengambil nyawanya. Sekarang, setelah semua yang Anda lihat dari semangat yang berapi-api dalam diri Nabi Musa (AS) ini, bagaimana menurut Anda dia akan beraksi atas kunjungan Malaikat Maut kepadanya? Dia memukul Malaikat itu begitu keras, hingga mengeluarkan matanya. Dan dia terus saja berjalan ke tujuannya dengan tekad yang kuat. Apakah dia memukulnya karena cinta dunia? Atau karena kebencian akan kematian? Bukanlah demikian.

Itu adalah reaksi yang berasal dari pengabdiannya untuk menyelesaikan misi yang diberikan Allah (SWTl kepadanya. Yang pada akhirnya membebaskan orang-orang yang beriman dari belenggu penyiksaan dan perbudakan menuju kebebasan dan pendirian agama milik Allah (SWT) di bumi.

Anda mungkin bertanya-tanya tentang kisah selanjutnya. Allah (SWT) meletakkan mata Malaikat Maut kembali ke kepalanya dan berkata, “Katakanlah kepada Musa (AS) untuk mengelus punggung bagian belakang anak sapi. Untuk setiap rambut yang disentuhnya aku akan memberinya memperpanjang usianya satu tahun.” Malaikat Maut itu menyampaikan kabar baik tersebut kepada Musa (AS). Musa (AS) bertanya, “Setelah itu lalu apa?” Dan Malaikat Maut pun menjawab pertanyaan Musa (AS) dengan “Kematian.” Musa (AS) berkata, “Kalau begitu, ambillah saja nyawaku sekarang.” Dan inilah bagaimana Nabi Musa (AS) meninggal satu hari perjalanan jauhnya dari Tanah Perjanjian. Dia tidak pernah sampai ke sana, dan itu tidak ditakdirkan untuk terjadi. Akan tetapi pelayan pribadi Nabi Musa (AS) yang setia (bocah yang ikut bepergian bersamanya untuk bertemu Khidr (AS)) mengambil jubahnya dan membimbing orang-orang beriman ke Tanah Suci, dan di sana mereka tinggal di tanah tempat Firman Allah berkuasa.

Wallahu a’lam bisshowab…